Lurah Manggala Paparkan Program Pengelolaan Sampah dan Urban Farming di Forum Pengawasan DPRD Makassar

SPASISULSEL.COM – Lurah Manggala Sukri Abbas mengapresiasi pelaksanaan kegiatan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang digelar Anggota DPRD Kota Makassar, Hj Umiyati, di Hotel Grand Imawan, Jumat (26/6/2026)

Menurut Sukri, kegiatan pengawasan yang dilaksanakan DPRD tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, tetapi juga sarana edukasi bagi warga terkait berbagai program yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Bacaan Lainnya

“Kegiatan seperti ini sangat penting karena masyarakat dapat menyampaikan langsung berbagai kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi. Selain itu, forum seperti ini juga menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk memberikan edukasi dan informasi terkait program-program yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Sukri.

Dalam kesempatan tersebut, Sukri Abbas secara khusus memaparkan
berbagai program yang telah dijalankan di wilayahnya, mulai dari peningkatan pelayanan administrasi kependudukan, penanganan persoalan lingkungan, pengelolaan persampahan hingga pemberdayaan masyarakat.

Sukri menegaskan pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dengan mengedepankan prinsip cepat, mudah, dan transparan.

“Kami selalu terbuka menerima masukan dari masyarakat. Setiap kritik menjadi bahan evaluasi agar pelayanan publik di Kelurahan Manggala semakin baik,” ujarnya.

Ditambahkan Sukri Abbas, salah satu program yang terus diperkuat di wilayahnya adalah sistem pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Menurutnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Ia mengatakan, Pemerintah Kelurahan Manggala terus mendorong warga untuk memilah sampah sejak dari rumah, mengoptimalkan peran bank sampah, serta meningkatkan koordinasi dengan petugas kebersihan agar proses pengangkutan sampah berjalan lebih efektif.

“Kami terus mengedukasi masyarakat agar membiasakan memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Dengan sistem ini, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat dikurangi, sementara sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan melalui bank sampah,” ujar Sukri Abbas.

Selain itu, pihaknya juga rutin melaksanakan kerja bakti bersama warga, RT/RW, serta komunitas lingkungan sebagai upaya menjaga kebersihan kawasan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Selain sistem pengelolaan sampah, Sukri juga mengajak warga untuk mulai mengembangkan urban farming atau pertanian perkotaan sebagai salah satu solusi menghadapi keterbatasan lahan di wilayah perkotaan.

Ia menjelaskan bahwa urban farming merupakan metode bercocok tanam yang dapat dilakukan di pekarangan rumah, halaman sempit, teras, balkon, hingga menggunakan media tanam vertikal. Dengan memanfaatkan ruang yang tersedia, masyarakat dapat menanam berbagai jenis sayuran seperti cabai, tomat, kangkung, bayam, sawi, terong, hingga tanaman obat keluarga.

Menurut Sukri, urban farming memiliki banyak manfaat, terutama dalam mendukung ketahanan pangan keluarga. Dengan menanam sendiri kebutuhan dapur, masyarakat dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga sekaligus memperoleh bahan pangan yang lebih segar dan sehat.

“Di tengah kondisi ekonomi yang terus berkembang, urban farming bisa menjadi salah satu upaya untuk menekan pengeluaran keluarga. Misalnya, cabai atau sayuran yang biasanya dibeli setiap hari bisa dipanen sendiri dari pekarangan rumah,” jelasnya.

Tak hanya itu, ia mengatakan bahwa urban farming juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat. Hasil panen yang melimpah dapat dijual kepada tetangga, kelompok masyarakat, maupun pasar lokal sehingga memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.

Sukri menambahkan, Pemerintah Kota Makassar saat ini terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan tidur yang ada di lingkungan masing-masing agar lebih produktif. Selain menghasilkan manfaat ekonomi, kegiatan bercocok tanam juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih hijau, asri, dan sehat.

“Urban farming bukan hanya soal menanam, tetapi juga membangun kemandirian pangan masyarakat. Jika dilakukan secara bersama-sama, maka lingkungan akan menjadi lebih hijau, kebutuhan pangan keluarga lebih terjamin, dan ekonomi warga juga bisa ikut meningkat,” terangnya.

Ia berharap masyarakat semakin aktif mengikuti berbagai program pemberdayaan yang dilaksanakan pemerintah dan mampu menjadikan urban farming sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari khususnya di wilayah Kecamatan Manggala. (*)

Pos terkait